Selasa, 31 Mei 2011

RPP Tembakau Jalan di Tempat, Rokok Masih Ancam Remaja 

Jakarta - Apa kabar Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengendalian Dampak Tembakau? RPP yang digodok sejak tahun 2010 itu masih jalan di tempat. Artinya, rokok masih mengancam perokok potensial, para kaum muda.

"Pengaturan dampak mengenai tembakau terhadap kesehatan masih dibicarakan antar kementerian. Belum sampai Mensesneg, belum sampai Menkum HAM, karena kita masih harus sosialisasi," ujar Menteri Kesehatan Endang R Sedyaningsih dalam Puncak Peringatan Hari Tanpa Tembakau se-Dunia bertema 'Melalui Regulasi Terbaik Kita Lindungi Generasi Muda dari Bahaya Merokok' di Taman Lalu Lintas Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (31/5/2011).

Dalam sosialisasi, imbuhnya, Kemenkes juga sudah mengundang yang pro rokok dan yang menentang rokok. "Agar kita terima masukan-masukan," imbuhnya.

Dalam sambutannya, Menkes Endang juga mengkhawatirkan adanya iklan rokok yang terus memaparkan pengaruhnya pada perokok potensial. "Anak-anak dan kaum muda semakin dijejali dengan ajakan merokok oleh iklan, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar," ujar Endang.

Dari survei Global Youth Tobacco tahun 2006, imbuhnya, 6 dari 10 pelajar di Indonesia terpapar asap rokok selama mereka di rumah. Lebih bahaya lagi, 85,4 persen perokok aktif merokok di dalam rumah bersama anggota keluarga sehingga mengancam kesehatan anggota keluarga lainnya. 37,3 persen pelajar dilaporkan biasa merokok dan 3 di antara 10 pelajar pertama kali merokok di bawah usia 10 tahun.

"Lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup serumah dengan perokok. Dan terpapar asap rokok atau sebagai perokok pasif," tutur Endang.

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/05/31/105025/1650654/10/rpp-tembakau-jalan-di-tempat-rokok-masih-ancam-remaja

Senin, 30 Mei 2011

Satu Perokok Meninggal Setiap 6 Detik

TAK hanya di Tanah Air, kecanduan tembakau merupakan masalah serius di berbagai negara di dunia. Misalkan saja di Amerika Serikat. Tercatat satu dari enam kematian di negeri Paman Sam secara langsung atau tidak berhubungan dengan merokok.

a. Fakta
Beberapa orang mungkin berpikir penggunaan tembakau hanyalah sebuah kebiasaan. Namun pada kenyataannya tembakau adalah obat yang sangat adiktif. Nikotin pada awalnya menghasilkan efek relaksasi dan meningkatkan kewaspadaan mental.

Namun setelah itu, tetap dibutuhkan nikotin lebih banyak untuk menghasilkan efek yang sama. Maka itulah, jika memutuskan untuk mengurangi penggunaan tembakau, Anda mungkin mengalami gejala penarikan diri negatif seperti kecemasan atau mudah marah.

Lebih dari 70 juta orang Amerika terhitung mengonsumsi tembakau. Sebagian besarnya adalah perokok. Bentuk lain dari penggunaan tembakau yakni cerutu, pipa, dan mengunyah tembakau.

Sekitar 4.000 remaja setiap hari mengisap rokok pertama mereka. Rokok pun diketahui berbahaya karena bisa menyebabkan penyakit jantung, stroke, kanker mulut, paru-paru, kerongkongan, dan kandung kemih. Penggunaan tembakau juga merupakan penyebab utama kematian di Amerika Serikat

Secara global, lebih dari 1 miliar perokok di dunia. Kecanduan tembakau membunuh rata-rata 1 orang setiap 6 detik. Pada akhirnya tembakau membunuh sampai setengah dari seluruh penggunanya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan tembakau merupakan faktor risiko dan salah satu dari 6 penyebab utama kematian di dunia.

b. Kesalahpahaman
Kesalahpahaman yang paling umum yakni menggunakan rokok tembakau memiliki bahaya lebih sedikit daripada rokok biasa. Padahal penggunaan tembakau tanpa asap dapat menyebabkan kanker mulut, kerongkongan, dan faring. Ini juga dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung.

c. Pencegahan dan solusi
Nikotin adalah obat adiktif. Kecanduannya ditandai oleh keharusan untuk mencari obat tersebut, bahkan ketika Anda tahu dan sadar ada konsekuensi negatif. Permen karet nikotin bisa membantu menghentikan kecanduan pada beberapa orang.

Terapi perilaku juga dapat membantu perokok mengidentifikasi pemicu sehingga mereka dapat merencanakan strategi untuk melawan keinginan untuk merokok. (MI/RRN)

Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/05/31/53228/Satu-Perokok-Meninggal-Setiap-6-Detik/

31 Mei 2011 Diimbau Tidak Ada Iklan Rokok

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Danang Setiaji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tanggal 31 Mei 2011 di peringati sebagai hari tanpa tembakau sedunia. Komnas Perlindungan Anak mengimbau agar seluruh media cetak dan media elektronik di Indonesia tidak menyiarkan iklan, promosi, maupun sponsor rokok pada tanggal tersebut.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Aris Sirait, mengatakan bahwa peringatan hari tanpa tembakau sedunia merupakan satu diantara resolusi dari sidang umum kesehatan dunia pada tanggal 7 April 1987.
Peringatan ini, ujarnya, bertujuan untuk mengingatkan penduduk dunia akan bahaya tembakau bagi kesehatan manusia. "Peringatan ini diharapkan dapat menekan jumlah kematian akibat rokok. Ini juga untuk mendorong pemerintah agarmembuat kebijakan yang mencegah generasi muda menjadi perokok," ujar Aris, Senin (30/5/2011).

Dikatakannya, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, melansir data tembakau membunuh lebih dari lima juta orang pertahun dan diproyeksikan akan membunuh 10 juta orang sampai tahun 2020. Dari jumlah tersebut, 70 persen berasal dari negara berkembang. Komnas Perlindungan Anak juga membeberkan data angka kematian akibat penyakit yang disebabkan rokok tahun 2011 adalah 427.948 jiwa, dimana terdapat 1.172 jiwa perhari atau sekitar 22,5 persen dari total kematian di Indonesia.

"Kita imbau tanggal 31 Mei 2011 media cetak maupun elektronik tidak menyiarkan iklan rokok. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa iklan sebagai strategi industri rokok yang membentuk citra positif bagi produknya," imbuhnya.




sumber

Minggu, 29 Mei 2011

Jaminan Sosial : Belum Ada Titik Temu Definisi

JAKARTA, KOMPAS.com — Rapat Kerja Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial DPR dan pemerintah di Jakarta, yang dimulai Selasa (24/5/2011), berjalan alot. Pemerintah dan DPR belum menemukan titik temu tentang definisi jaminan sosial dalam daftar inventarisasi masalah RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial nomor 12.

Rapat dipimpin Ketua Pansus dari Fraksi Partai Demokrat Ahmad Nizar Shihab dan dihadiri Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi EE Mangindaan.

Rapat dimulai dengan pemaparan Menkeu mengenai konsep pemerintah tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Selanjutnya, pembahasan daftar inventarisasi masalah (DIM) sesuai nomor urut. Perdebatan selama hampir 3 jam, tidak termasuk skors 10 menit pada pukul 17.00, terjadi pada DIM nomor 12 tentang definisi jaminan sosial.

Hal ini membuat untuk sementara pembahasan RUU BPJS terhenti di DIM nomor 12. Rencananya, pemerintah dan DPR akan meneruskan rapat kerja pada Rabu (25/5/2011).

DPR menginginkan agar Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 2 RUU BPJS mencantumkan definisi jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Adapun pemerintah bersikeras dengan definisi jaminan sosial adalah jaminan sosial sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Undang-undang  yang dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004. Pemerintah menjelaskan, definisi jaminan sosial sebaiknya mengacu pada UU SJSN agar UU BPJS tidak perlu direvisi apabila suatu saat UU SJSN direvisi. Alasan ini kontan memicu perdebatan anggota pansus.

Sunartoyo dari Fraksi PAN mengatakan alasan itu tidak rasional. "Bagaimana pemerintah membahas definisi sesuai dengan yang ada dalam UU SJSN yang entah kapan mau direvisi," ujarnya.

Rieke Diah Pitaloka dari Fraksi PDI-P menegaskan, asas dan prinsip jaminan sosial harus tercantum dalam RUU BPJS sehingga definisi harus dijelaskan.

Menurut Hendrawan dari Fraksi PDI-P, pemerintah dan DPR harus sepaham dulu tentang konsep BPJS. "Jadi, DPR mengajukan konsep limitatif ideologis dan pemerintah bersifat akomodatif dan pragmatis," ujarnya.

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/25/07160382/Belum.Ada.Titik.Temu.Definisi.

Sabtu, 28 Mei 2011

Mengapa Nikotin Berbahaya?

Nikotin bisa jadi adalah jenis zat dalam rokok yang paling populer dalam mengakibatkan gangguan kesehatan. Apakah nikotin? Nikotin merupakan senyawa alkaloid (zat yang berbahan dasar atom nitrogen) yang terdapat pada akar dan daun tembakau. Nikotin pada tembakau berkisar 0,6 hingga 3% berat tembakau. Di alam, nikotin dalam tumbuhan berfungsi untuk mengusir serangga atau bisa dikatan nikotin merupakan insektisida alami.

Zat dalam rokok ini masuk ke dalam tubuh melalui asap rokok, dan akan langsung tesebar hampir ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Nikotin yang terbawa melalui peredaran darah hanya membutuhkan waktu 7 detik untuk sampai ke organ jantung. Bahaya nikotin dapat meningkatkan resiko serangan jantung.

Zat racun ini mampu membuat pembuluh arteri mengeras, serta menimbulkan penumpukan lemak di saluran arteri pada jantung, akibatnya darah tidak terpompa secara baik melalui jantung. Gangguan ini memicu terjadinya serangan jantung pada perokok. Ditambah lagi zat ini secara cepat akan meningkatkan denyut jantung segera setelah ia masuk ke dalam tubuh, maka terjadilah gangguan pada organ ini, antara lain aritmia atau gangguan irama jantung.

Sementara pada paru-paru, nikotin berpotensi besar menimbulkan gangguan bahkan kerusakan sel yang memicu terjadinya kanker paru. Kanker paru merupakan penyakit kanker yang paling banyak diderita oleh manusia, dengan jumlah 12,7% dari semua penderita kanker. Selain itu zat dalam rokok ini juga beresiko terhadap gangguan fungsi paru yang memicu munculnya penyakit emfisema, bronkitis, tuberkolosis, dan infeksi paru.

Selain itu, bahaya nikotin yang masuk ke dalam tubuh secara cepat akan mempengaruhi kondisi aliran darah. Dalam waktu singkat zat ini akan meningkatan tekanan darah seseorang. Harvard Medical School pada tahun 2005 mengemukakan bahwa nikotin dapat memicu efek berantai, yaitu merangsang sistem syaraf pusat yang kemudian mendorong tubuh untuk melepaskan hormon apinefrin atau adrenalin. Kemudian hal ini menimbulkan efek beragam, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah yang pada tahap selanjutnya akan membuat seseorang menderita hipertensi. Tak hanya hipetensi, nikotin juga menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai cikal bakal terjadinya penyakit diabetes. Hipertensi dan diabetes merupakan dua jenis penyakit yang sering mengakibatkan stroke pada perokok.

Tak hanya sakit di dalam, nikotin juga membuat penampilan kulit tubuh seseorang menjadi sangat buruk. Zat ini bersifat diuretik, yaitu senyawa yang mendorong tubuh mengeluarkan cairan dari dalam tubuh, terutama melalui urin. Sifat inilah yang membuat kulit perokok menjadi kering dan berkeriput. Selain itu bahaya nikotin juga membuat kulit kekurangan vitamin A dan kolagen, akibatnya kulit menjadi kusam, kasar, berkerut, dan tidak elastis.

Sumber :http://pusatmedis.com/mengapa-nikotin-berbahaya_658.htm

Mengapa Nikotin Berbahaya?

Nikotin bisa jadi adalah jenis zat dalam rokok yang paling populer dalam mengakibatkan gangguan kesehatan. Apakah nikotin? Nikotin merupakan senyawa alkaloid (zat yang berbahan dasar atom nitrogen) yang terdapat pada akar dan daun tembakau. Nikotin pada tembakau berkisar 0,6 hingga 3% berat tembakau. Di alam, nikotin dalam tumbuhan berfungsi untuk mengusir serangga atau bisa dikatan nikotin merupakan insektisida alami.

Zat dalam rokok ini masuk ke dalam tubuh melalui asap rokok, dan akan langsung tesebar hampir ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Nikotin yang terbawa melalui peredaran darah hanya membutuhkan waktu 7 detik untuk sampai ke organ jantung. Bahaya nikotin dapat meningkatkan resiko serangan jantung.

Zat racun ini mampu membuat pembuluh arteri mengeras, serta menimbulkan penumpukan lemak di saluran arteri pada jantung, akibatnya darah tidak terpompa secara baik melalui jantung. Gangguan ini memicu terjadinya serangan jantung pada perokok. Ditambah lagi zat ini secara cepat akan meningkatkan denyut jantung segera setelah ia masuk ke dalam tubuh, maka terjadilah gangguan pada organ ini, antara lain aritmia atau gangguan irama jantung.

Sementara pada paru-paru, nikotin berpotensi besar menimbulkan gangguan bahkan kerusakan sel yang memicu terjadinya kanker paru. Kanker paru merupakan penyakit kanker yang paling banyak diderita oleh manusia, dengan jumlah 12,7% dari semua penderita kanker. Selain itu zat dalam rokok ini juga beresiko terhadap gangguan fungsi paru yang memicu munculnya penyakit emfisema, bronkitis, tuberkolosis, dan infeksi paru.

Selain itu, bahaya nikotin yang masuk ke dalam tubuh secara cepat akan mempengaruhi kondisi aliran darah. Dalam waktu singkat zat ini akan meningkatan tekanan darah seseorang. Harvard Medical School pada tahun 2005 mengemukakan bahwa nikotin dapat memicu efek berantai, yaitu merangsang sistem syaraf pusat yang kemudian mendorong tubuh untuk melepaskan hormon apinefrin atau adrenalin. Kemudian hal ini menimbulkan efek beragam, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah yang pada tahap selanjutnya akan membuat seseorang menderita hipertensi. Tak hanya hipetensi, nikotin juga menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai cikal bakal terjadinya penyakit diabetes. Hipertensi dan diabetes merupakan dua jenis penyakit yang sering mengakibatkan stroke pada perokok.

Tak hanya sakit di dalam, nikotin juga membuat penampilan kulit tubuh seseorang menjadi sangat buruk. Zat ini bersifat diuretik, yaitu senyawa yang mendorong tubuh mengeluarkan cairan dari dalam tubuh, terutama melalui urin. Sifat inilah yang membuat kulit perokok menjadi kering dan berkeriput. Selain itu bahaya nikotin juga membuat kulit kekurangan vitamin A dan kolagen, akibatnya kulit menjadi kusam, kasar, berkerut, dan tidak elastis.

Sumber :http://pusatmedis.com/mengapa-nikotin-berbahaya_658.htm

Selasa, 24 Mei 2011

PENENTUAN KADAR NIKOTIN DALAM ASAP ROKOK

Abstrak

Penelitian ini merupakan studi deskriptif untuk mengetahui kadar nikotin dalam asap beberapa merk rokok yang banyak dijual di pasaran. Jenis rokok yang digunakan adalah tiga merk rokok filter dan tiga merk rokok kretek (non filter),Kadar nikotin yang diukur adalah kadar nikotin dalam asap arus utama dan asap rokok arus samping. Pengukuran kadar nikotin dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi per batang rokok. Kandungan nikotin dalam rokok kretek lebih besar dibandingkan rokok filter. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar pada Filter-C, terendah pada Filter-A. Sedangkan pada rokok kretek kandungan tertinggi pada Kretek-X dan terendah pada Kretek-Z. Nikotin yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4 – 6 kali lebih dari asap rokok arus utama. Hendaknya kadar nikotin dicantumkan pada kemasan setiap merk rokok dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek terhadap
kesehatan masyarakat.

Selengkapnya

Senin, 23 Mei 2011

Amerika Bakal Larang Peredaran Rokok

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat ada kemungkinan melarang peredaran semua jenis rokok. Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami, menyatakan pernyataan tersebut diungkapkan pada forum panel rokok kedua di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), beberapa waktu lalu.

Jika larangan itu diberlakukan, kata Gusmardi, panel yang diusung oleh Indonesia bisa dianggap selesai. Seperti diketahui, panel diajukan karena pemerintah Indonesia merasa aturan Tobacco Act yang dikeluarkan Amerika pada 2009 sangat diskriminatif.

Beleid itu melarang penjualan rokok beraroma, termasuk rokok kretek. Aturan itu muncul dengan alasan rokok kretek lebih berbahaya, terutama untuk para perokok pemula.

Hal ini yang kemudian dinilai bakal merugikan Indonesia sebagai eksportir rokok. Asosiasi produsen rokok menghitung, potensi kerugian akibat ditutupnya pintu ekspor bakal mencapai US$ 200 juta per tahun.

Lebih jauh Gusmardi menyatakan, pemerintah Amerika bahkan berencana melarang peredaran semua rokok. "Berarti tidak ada diskriminasi untuk rokok kretek," katanya kemarin. Meskipun begitu, sebetulnya pelarangan rokok bakal merugikan industri rokok putih di Negeri Abang Sam.

Hingga kini panel rokok kretek sudah dilaksanakan sebanyak dua kali. Tapi, sampai panel kedua, Amerika belum memberi alasan ilmiah mengapa rokok kretek dianggap lebih berbahaya dibanding rokok lainnya. Indonesia juga akan menyampaikan tanggapan atas panel kedua pada 19 April ini.

Menurut jadwal, panel berikutnya akan dilaksanakan bulan depan. Pemerintah berharap proses panel tidak berlangsung terlalu lama, atau maksimal setahun saja.

Pengusaha rokok sebelumnya mendukung langkah pemerintah memperjuangkan rokok kretek di forum WTO. Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia Ismanu Sumiran menilai aturan Amerika diskriminatif. Sebab, rokok beraroma mentol yang banyak diproduksi perusahaan Amerika boleh beredar. "Ini bagian dari politik dagang," kata dia.

Selama periode 2005-2007, ekspor rokok melonjak 150 persen. Namun, setelah periode tersebut, baru terjadi penurunan ekspor. Adapun pangsa pasar rokok kretek Indonesia di Amerika hanya 0,19 persen dari total pasar rokok.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/04/19/brk,20110419-328483,id.html

Jumat, 20 Mei 2011

Tangerang Berlakukan Larangan Merokok Mulai Oktober 2011

Metrotvnews.com, Tangerang: Pemerintah Kota Tangerang, Banten, tengah mensosialisasikan larangan merokok di sejumlah tempat di kawasan tersebut. Larangan itu berlaku mulai awal Oktober 2011.

"Sosialisasi dilakukan terhadap warga agar jangan merokok di kawasan rumah sakit, sekolah, maupun lokasi publik lainnya," kata Sekretaris Daerah Pemkot Tangerang, Harry Mulya Zein.

Menurut Zein, larangan merokok sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2010. Tujuannya untuk membatasi kebiasaan merokok warga sekaligus memberi kenyamanan pada masyarakat umum seperti balita dan ibu hamil.

Zein mencontohkan masih banyak warga yang tak tertib. Di rumah sakit misalnya, warga masih merokok. Ketika ditegur petugas, warga hanya berhenti merokok sebentar. Mereka kemudian merokok kembali dengan cara bersembunyi-sembunyi di kawasan rumah sakit.

Lantaran itu, kata Zein, pihak berwenang akan menetapkan hukuman kurungan tiga bulan dan denda Rp50 juta pada warga yang melanggar.(Ant/***)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/03/29/46882/Tangerang-Berlakukan-Larangan-Merokok-Mulai-Oktober-2011

Senin, 16 Mei 2011

Pentingnya Olahraga Untuk Kurangi Kecanduan Rokok


Kebiasaan merokok memang tak mudah dihilangkan, meskipun bahaya yang bisa ditimbulkan oleh rokok bagi kesehatan sudah banyak diketahui. Namun, bagi Anda yang kesulitan untuk berhenti merokok, cobalah untuk mulai berolahraga ringan. Olahraga memainkan peran yang sangat penting untuk membantu Anda berhenti merokok. Penelitian menunjukkan bahwa para perokok yang melakukan latihan secara rutin memiliki tingkat keberhasilan sebanyak 2 kali lipat lebih tinggi untuk berhenti merokok dibandingkan perokok yang tidak berolahraga teratur.

Rokok memang meredakan stress bagi banyak perokok, bahkan jika tidak merokok, mereka merasa level stress mereka akan meningkat. Olahraga adalah pereda stress terbaik dan dapat menggantikan ketergantungan Anda terhadap rokok untuk mengurangi stress. Dan bagi Anda yang memang cenderung jarang berolahraga atau beraktivitas fisik teratur, jangan cemas, karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dr. Adrian Taylor dan timnya, olahraga ringan seperti jalan kaki selama minimal 5 menit saja sudah mampu menurunkan kadar keinginan merokok.

Menurut beliau, apapun yang bisa mengalihkan perhatian orang dari rokok akan membantu mengurangi keinginan merokok, dan olahraga akan memicu tubuh memproduksi hormon dopamine yang akan mengurangi ketergantungan perokok terhadap nikotin.

Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa makin tinggi intensitas olahraga, makin tinggi pula tingkat keberhasilan menekan kecanduan merokok ini. Jadi Anda bisa mencoba melakukan olahraga lain yang intensitasnya lebih tinggi selama 20-30 menit sebanyak 3-4 kali per minggu. Lakukan olahraga apa pun yang Anda sukai, seperti jogging, bersepeda, berenang, bermain tenis, basket, dan sebagainya.

Meskipun hasil penelitian ini menyebutkan bahwa untuk berhenti total dari kebiasaan ini diperlukan kombinasi antara olahraga dan teknik menghentikan kebiasaan merokok lainnya, tak ada salahnya mencoba saran para ahli tersebut, karena olahraga dan aktivitas fisik teratur tak hanya mengurangi kecanduan merokok, namun masih banyak manfaat olahraga lainnya bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.


sumber : http://duniafitnes.com/featured/pentingnya-olahraga-untuk-kurangi-kecanduan-rokok.html

Rabu, 11 Mei 2011

Urgent: Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar Pada Rokok!

Di Brunei, semua industri rokok termasuk rokok impor dari Indonesia patuh terhadap aturan untuk menerapkan peringatan kesehatan bentuk gambar seluas 50% di bagian atas permukaan depan dan belakang bungkus rokok sesuai waktu yang ditetapkan. Industri rokok diberikan tenggang waktu 6 bulan untuk menyesuaikan bungkusnya. Penegakan hukum tidak sulit karena komitmen pemerintah cukup tinggi dan adanya kerjasama efektif dengan instansi terkait, cukai, perijinan dan kepolisian kesultanan Brunei.

Produsen rokok Indonesia telah memproduksi bungkus rokok dengan peringatan kesehatan bergambar untuk rokok ekspor sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara tujuan. Tak lama lagi kemasan rokok yang beredar di Indonesia akan sama seperti di Luar Negeri, dilengkapi Peringatan Kesehatan Berbentuk gambar pada kemasannya seperti bunyi pasal-pasal dalam RPP.

3 Urgent: Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar Pada Rokok!

Pemerintah saat ini sedang merampungkan peraturan pemerintah tentang pengamanan zat adiktif produk tembakau sebagai mandat UU Kesehatan No. 36/2009 yang salah satu pasalnya adalah peringatan kesehatan di bungkus rokok. Indonesia sudah menerapkan peringatan berbentuk tulisan kecil di bagian bawah permukaan belakang bungkus rokok sejak 1999.

Peringatan tertulis yang memuat sederetan gangguan kesehatan akibat rokok ini terbukti tidak efektif disamping sulit dibayangkan wujud penyakitnya, pesan tidak pernah diganti tidak membuat perokok percaya akan bahayanya. Ini terbukti dengan terus meningkatnya jumlah perokok. Perokok remaja 15-19 tahun naik 150% selama tahun 2001-2007 sementara perokok pemula usia 10-14 tahun naik hampir 2 kali lipat selama periode yang sama.

Penelitian di banyak negara menunjukkan bahwa peringatan kesehatan berbentuk gambar lebih efektif meningkatkan pemahaman tentang resiko merokok merokok daripada bentuk tulisan. Di Singapura, 1 dari 6 perokok mengaku mereka tidak lagi merokok di depan anak-anak, sementara di Thailand, lebih dari 50% mengatakan peringatan kesehatan bentuk gambar membuat mereka berpikir tentang resiko kesehatan.

Bungkus rokok bertujuan menciptakan keinginan membeli dan mencoba, pemerintah punya tanggung jawab mengedukasi masyarakat tentang dampak merokok bagi kesehatan. Dengan terbatasnya sumber daya pemerintah untuk menjangkau masyarakat sampai ke pelosok-pelosok termasuk yang buta huruf dan remaja yang tidak mendapatkan pengetahuan cukup tentang bahaya merokok peringatan kesehatan bentuk gambar akan meningkatkan pemahaman sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab, proporsi gambar terbesar di dunia adalah 80% luas bungkus rokok di bagian depan dan belakang.

4 Urgent: Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar Pada Rokok!

Gambar berfungsi mencegah perokok pemula mencoba pertama kali merokok. Gambar efektif mengurangi jumlah perokok.

Agar efektif, peringtan kesehatan pada kemasan rokok hendaknya jelas, mudah dilihat, relevan dan mudah diingat. Praktek terbaik di berbagai negara mensyaratkan:

1. Peringatan kesehatan dibungkus rokok dalam bentuk gambar.

2. Berwarna, dengan pesan tunggal.

3. Luasnya 50% dari permukaan bagian depan dan belakang bungkus rokok.

4. Ditempatkan pada bagian atas bungkus rokok.

5. Tidak tertutup selubung atau terhalang apapun.

6. Diganti secara periodik.

Mengapa Perlu Peringatan Kesehatan?

Salah satu argumen tentang konsumsi rokok adalah bahwa perokok sendiri yang membuat keputusan untuk membeli rokok berdasarkan pengetahuan yang cukup tentang produk yang dibelinya. Argumen ini didasarkan pada teori ekonomi tentang kedaulatan konsumen yang mengatakan bahwa konsumen sendirilah yang berhak menentukan bagaimana membelanjakan uangnya dengan dasar pengetahuan yang cukup tentang biaya dan manfaat dari pembelian produk tersebut dan konsumen sendiri akan menanggung beban biaya akibat pembeliannya.

Kedua asumsi itu tidak berlaku bagi konsumen produk termbakau karena calon perokok tida sepenuhnya sadar bahwa produk yang dibelinya akan menjeratnya seumur hidup karena bersifat adiktif, beresiko terkena penyakit dan kematian dini, serta memberikan beban ekonomi dan kesehatan langsung atau tidk pada orang lain.

Pemerintah berkewajiban untuk melindungi remaja dan masyarakat umumnya dengan memberikan informasi yang jelas dan benar tentang dampak konsumsi produk tembakau. Sarana informasi yang memiliki akses luas menjangkau seluruh lapisan masyarakat adalah peringatan kesehatan di bungkus rokok yang dipersayaratkan bagi produk tembakau untuk mencantumkannya.

Mengapa Perlu peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar?

5 Urgent: Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar Pada Rokok!

Pemberian informasi dan edukasi bagi masyarakat dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran.

Efektifitas pesan peringatan kesehatan berbentuk tulisan di bungkus rokok yang beredar di pasaran Indonesia telah dievaluasi melalui studi yang dilakukan PPK, UI tahun 2007.

Hasilnya menunjukkan bahwa lebih 90% responden pernah membaca peringatan kesehatan bentuk tulisan di rokok, masing-masing 97% perokok dan 83% bukan perokok. 43% tidak percaya karena merasa tidak terbukti, 26% tidak termotivasi berhenti merokok dan 20% mengatakan tulisannya terlalu kecil dan tidak terbaca. Dari studi ditemukan bahwa 76% responden menginginkan peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan, sepertiga jumlah perokok bahkan menginginkan pesan yang spesifik dan menakutkan.

Praktek terbaik yang dilakukan di berbagai negara mensyaratkan peringatan kesehatan di bungkus rokok berbentuk gambar dan tulisan. Hanya satu gambar disertai pesan tulisan yang sesuai dengan gambarnya di masing-masing bungkus rokok. Luas gambar minimal adalah 50% dari permukaan depan dan 50% di permukaan belakang, ditempatkan pada bagian atas bungkus rokok, tidak boleh tertutup selubung dan diganti secara periodik. Pada setiap seri produksi akan dikeluarkan 5 jenis gambar untuk setiap merek dari setiap jenis produk.

Semoga Pemerintah RI segera menyusul 40 negara lain yang telah mempraktekkan tindakan serupa: menerapkan peringatan kesehatan berbentuk gambar pada bungkus rokok.


sumber : http://isnuansa.com/urgent-peringatan-kesehatan-berbentuk-gambar-pada-rokok/

Selasa, 10 Mei 2011

Penunjang Menghentikan Kebiasaan Merokok


Apakah merokok adalah suatu kebiasaan atau ketergantungan? Orang yang selalu merokok dalam bahasa ilmiahnya dikarenakan suatu habituation (kebiasaan), yakni bisa terus merokok karena terbiasa. Dengan demikian merokok adalah suatu kebiasaan (habituation) dan bukan satu ketergantungan (addiction). Ada perbedaan yang sangat mendasar antara kebiasaan (habituation) dan ketergantungan (addiction).

Kebiasaan adalah membiasakan diri melakukan sesuatu karena ada bahan, bila ia menghentikan kebiasaannya, maka akan muncul gejala-gejala psikis dari dalam dirinya. Sedangkan ketergantungan sebagaimana ketergantungan heroin ataupun kokain adalah ketergantungan fisik dan psikis, yakni fisik pun menjadi terbiasa untuk mengkonsumsi suatu bahan yang ada.

Dengan demikian, dengan ketiadaan bahan tersebut, selain menimbulkan gejala-gejala psikis, juga membuat fisiknya menjadi lemah untuk melaksanakan kegiatan dan aktivitas rutin. Kesimpulan yang bisa ditarik dari paparan di atas, adalah bahwa melepaskan diri dari merokok bukanlah hal yang sangat sulit sebagaimana dipersepsikan oleh banyak perokok.

Ketiadaan rokok hanya akan menimbulkan gejala psikis yang bersifat sementara. Hal ini tentunya berbeda dengan melepaskan diri dari suatu ketergantungan. Dibutuhkan terapi khusus dalam waktu yang cukup lama, karena gejala yang ditimbulkannya mencakup gejala fisik dan psikis sekaligus. Bahkan terkadang suatu terapi pun belum tentu mampu melepaskan seseorang dari suatu ketergantungan.

Melepaskan diri dari kebiasaan merokok tergantung pada kemauan yang kuat dari dalam diri perokok itu sendiri untuk mampu menghentikan kebiasaannya tersebut. Para psikolog mengemukakan bahwa tumbuhnya kemauan tersebut merupakan satu hal penting, walaupun disertai dengan alat penunjang lainnya guna dapat menghentikan kebiasaan merokok, seperti dengan menggunakan terapi substitusi, yakni dengan memberikan perokok zat LobeHines sebagai pengganti dari nikotin untuk kemudian dihentikan secara perlahan penggunaannya.

Para ahli kesehatan mencoba membantu para perokok dengan menanamkan keinginan kuat untuk menghentikan kebiasaan merokoknya, dan juga membantunya keluar dari segala permasalahan yang kelak akan dihadapinya dengan berbagai cara pengobatan dan terapi yang beragam, sesuai dengan kondisi yang ada. Di antara pengobatan tersebut adalah:

Psikoterapi: Salah satu usaha pengobatan terbaik adalah pengobatan secara berkelompok atau Group Therapy.

Hipnotis: Cara ini dilakukan berdasarkan titik kesadaran dalam diri pasiennya. Psikolog menggunakan cara hipnotis ini untuk memberi kesadaran dalam diri pasien akan bahaya yang menghantuinya bila is tetap merokok.

Psikoanalisis: Cara ini dilakukan bila keadaan yang dihadapi sudah sangat rumit; yakni di saat motivasi dalam diri perokok berkaitan erat dengan beragam faktor psikologis yang melekat erat dalam pikirannya.

Dimensi pendidikan: Yang dimaksud adalah dengan memaparkan berbagai bahaya yang ditimbulkan dari rokok di hadapan perokok, baik melalui dialog langsung dengannya ataupun dalam bedah buku yang berkaitan dengan masalah tersebut, dengan tujuan untuk memberikan pencerahan dan menyadarkan dirinya dari bahaya rokok.

Sebelum Anda mulai menghentikan kebiasaan merokok, hendaknya Anda bertanya pada diri sendiri, mengapa Anda merokok? Sudah menjadi fitrah manusia bahwa pada dasarnya ia tidak membutuhkan rokok dalam hidupnya. Setiap fungsi organ tubuh pun pada dasarnya tidak selaras dengan semua zat yang ada dalam rokok, bahkan bisa dikatakan bahwa semua zat tersebut justru mengacaukan fungsi semua organ tubuh.

Bila Anda meyakini bahwa rokok bisa membantu Anda dalam berkonsentrasi ataupun membantu Anda dalam menghadapi masa-masa sulit sebagaimana dipersepsikan banyak orang, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Anda sedang berkhayal! Fakta ilmiah telah membuktikan bahwa justru rokok bisa mengacaukan konsentrasi dan pikiran, juga menimbulkan kegelisahan dan kecemasan.

Bila berbagai permasalahan dan kesulitan membuat Anda merokok dengan harapan hal tersebut bisa membantu Anda melaluinya, maka Anda sesungguhnya telah melakukan kesalahan pada diri Anda sendiri. Alasan Anda sebenarnya adalah untuk melarikan diri dari masalah dan melarikan diri dari tanggung jawab yang menyertainya.

Referensi
Tobat Merokok – Hc
Oleh Dr. Aiman Husaini

Menkes Prioritaskan Penanganan HIV/Aids dan Penyakit Akibat Rokok


Jakarta, Warta Kota

Kementerian Kesehatan akan memfokuskan penanganan HIV/AIDS dan penyakit terkait rokok pada 2011 karena dinilai capaian bagi kedua masalah tersebut masih jauh dari harapan.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan bahwa penanganan dunia kesehatan tanah air adalah penting untuk dapat mencapai Millenium Development Goals (MDGs) yang mayoritas merupakan target dibidang kesehatan.

"Unsur kesehatan adalah unsur dominan dalam MDGs karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan," kata Menkes dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa.

Lima agenda MDGs adalah Agenda ke-1 (Memberantas kemiskinan dan kelaparan), Agenda ke-4 (Menurunkan angka kematian anak), Agenda ke-5 (Meningkatkan kesehatan ibu), Agenda ke-6 (Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya), serta Agenda ke-7 (Melestarikan lingkungan hidup).

Sementara itu, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya dengan proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok usia produktif (usia 20-29 tahun) sebanyak 49,07 persen.

Sedangkan prevalensi perokok secara nasional berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2010 sebesar 34,7 persen.

"Ini berarti lebih dari sepertiga penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit akibat gangguan pernapasan," ujar Menkes.

Prevalensi penduduk yang merokok pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 32,2 persen dan pada penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas sebanyak 54,1 persen.

Prevalensi tertinggi pertama kali merokok pada umur 15-19 tahun (43,3 persen) dan sebesar 1,7 persen penduduk bahkan mulai merokok pertama kali pada umur 5-9 tahun.

Menkes mengimbau para Gubernur untuk segera mengeluarkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja masing-masing untuk bisa mengurangi jumlah perokok.

Dalam rangka pencapaian MDGs, pada tahun 2011 Kemenkes meluncurkan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang diberikan kepada seluruh Puskesmas di Indonesia yang jumlahnya berkisar antara Rp75 juta sampai Rp250 juta pertahun.

Selain itu, mulai tahun 2011 ini juga mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk memberikan jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapat jaminan kesehatan untuk persalinan dan mencakup pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan neonatus dan promosi ASI.

Untuk penanganan HIV/AIDS, salah satu fokus program pengendalian HIV/AIDS 2010 dan 2011 adalah peningkatan jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan testing HIV pada tahun 2010 sebanyak 300.000 orang dan tahun 2011 menjadi 400.000 orang.

Peningkatan juga diharapkan terjadi pada persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan obat anti retroviral (ARV) dari 70 persen pada 2010 menjadi 75 persen pada 2011 serta peningkatan presentase kabupaten/kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman dari 50 persen tahun 2010 menjadi 60 persen pada 2011.

Dalam rangka pencegahan penularan AIDS juga ditargetkan meningkatnya penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi di tahun 2011 yakni sebanyak 35 persen pada perempuan dan 20 persen pada laki-laki.

"Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, persentase penduduk umur diatas 15 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS hanya sebesar 11,4 persen sehingga penting untuk meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi terhadap kelompok ini," ujar Menkes. (ant/ce1)


sumber : http://www.wartakota.co.id/detil/berita/38111/Menkes-Prioritaskan-Penanganan-HIVAids-dan-Penyakit-Akibat-Rokok

Senin, 09 Mei 2011

Industri Rokok Sumut Makin Terpojok


MedanBisnis-Medan. Industri rokok di Sumatera Utara (Sumut) benar-benar terpojok. Setelah
pemerintah menetapkan kenaikan cukai pita rokok sejak 1 Januari 2011,
kini pemerintah menginginkan industri rokok melakukan langkah-langkah
yang bisa mengingatkan masyarakat di semua tingkatan agar menyadari
bahaya merokok bagi kesehatan.
"Melalui RPP (rancangan peraturan pemerintah -red) Tembakau, pemerintah hendak menerapkan sejumlah aturan yang lain yang lebih ketat bagi industri rokok. Rencana pemerintah itu, terus terang, bisa menambah beban biaya operasional kami sebagai perusahaan tembakau," kata Public Relations PT STTC Siantar, Ng Pin Pin, kepada MedanBisnis, Kamis.

Aturan yang dimaksud Pin Pin adalah wacana keharusan bagi perusahaan penghasil rokok untuk menyertakan gambar tanda bahaya merokok bagi masyarakat. Dengan demikian, gambar itu akan memperkuat peringatan tertulis atas bahaya merokok bagi kesehatan yang sudah ada pada setiap bungkus rokok.

Menurut Pin Pin, jika wacana itu disahkan menjadi bagian dari Peraturan Pemerintah, maka pihaknya akan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membeli mesin cetak yang canggih untuk membuat gambar tersebut.

Pun jika mereka mencetak gambar itu kepada perusahaan lain yang umumnya ada di Pulau Jawa, tetap akan memakan biaya mahal, waktu yang lama, dan jarak tempuh yang jauh. "Kalau mau memesan pencetakan gambar itu ke perusahaan lain, kan ada batas minimum delvery order-nya. Enggak bisa sedikit-sedikit memesannya. Ini benar-benar menambah biaya," keluh Pin Pin.

Kata Pin Pin, pukulan pemerintah terhadap industri rokok tidak cukup di situ. RPP itu juga memuat larangan berpromosi bagi perusahaan rokok. Padahal, kata Pin Pin, dalam judicial review UU Antitembakau, Mahkamah Konstitusi (MK) telah meloloskan permohonan pihak perusahaan periklanan agar larangan berpromosi iklan rokok di ruang terbuka dicabut. (hendrik hutabarat)

Larangan Merokok Picu Keinginan Merokok


TEMPO Interaktif, Sebuah studi psikologi yang dilakukan Universitas Oxford, Inggris, menemukan tanda larangan merokok justru meningkatkan keinginan mengisap tembakau. Para peneliti mengungkapkan temuan mereka ini merupakan sesuatu ironis, di mana tujuan tanda larangan merokok justru memicu orang ingin melanggarnya.


"Anda akan mendapat efek ironis ketika menerima informasi larangan," kata Brian Earp salah satu peneliti yang dikutip oleh Daily Mail, Jumat 6 Mei 2011. Ia mencontohkan, ketika seseorang diminta jangan memikirkan gajah pink, otaknya justru memikirkan gajah pink.

Kenyataan itu membawa pada kesimpulan bahwa berbagai pesan kesehatan seperti jangan mengkonsumsi narkoba, jangan minum alkohol sambil menyetir mobil, atau jangan merokok, justru direspon secara negatif. Larangan merokok ada di mana-mana, dan ketika seorang perokok melihat tanda larangan itu, keinginannya ingin merokok meningkat.

Peneliti Oxford mengetes teori itu dengan meminta sekelompok perokok dari Inggris dan Amerika untuk melihat gambar-gambar, termasuk gambar dilarang merokok. Peneliti juga meminta sekelompok lain melakukan hal yang sama, tapi mereka tidak ditunjukkan gambar larangan merokok.

Mereka diberikan tongkat yang dapat diarahkan ke depan dan ke belakang. Arah ke depan artinya menginginkan, dan arah ke belakang artinya menghindar. Ternyata kelompok yang diperlihatkan gambar larangan merokok, setelahnya lebih senang berlama-lama melihat gambar yang berhubungan dengan rokok, misalnya asbak dan rokok.

Minggu, 08 Mei 2011

Berapa Biaya Kesehatan 1 Bungkus Rokok?


Sudah banyak orang yang tahu bahaya yang ditimbulkan dari rokok. Tapi hanya sedikit yang mau tahu berapa biaya kesehatan yang harus dikeluarkan dari 1 bungkus rokok. Ternyata dari 1 bungkus rokok saja biaya kesehatan rata-rata dunia mencapai Rp 1-2 juta. Itu baru satu bungkus lho.

Harga rokok rata-rata di banyak negara yang sudah melakukan ratifikasi tembakau adalah sekitar US$ 4-7 atau (sekitar Rp 38.000-66.000).

Tapi jangan memasukkan harga rokok di Indonesia yang memang masih sangat murah yakni kurang dari US$ 1 dan Indonesia juga belum masuk dalam negara yang melakukan ratifikasi tembakau atau Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).

Dari harga rata-rata rokok di negara-negara maju, peneliti berhasil menghitung berapa biaya kesehatan yang ditimbulkan dari 1 bungkus rokok. Ternyata mencapai 36 kali lipat. Itu baru dari 1 bungkus rokok saja. Sedangkan perokok biasanya merokok lebih dari 1 bungkus selama dia suka.

Peneliti mengambil sampel di Spanyol yang harga satu bungkus rokok antara US$ 4,20- US$ 5,60 (Rp 39.000-Rp 52.000). Setelah dihitung biaya kematian prematur akibat rokok maka yang harus ditanggung oleh perokok dari satu bungkus rokok adalah US$ 150 (Rp 1,4 juta) per bungkus untuk laki-laki dan US$ 105 (Rp 987.000) per bungkus untuk perempuan.

Peneliti menyebutnya sebagai harga sebenarnya atau ‘true cost’ dari sebungkus rokok ternyata melebihi harga yang tercantum di bungkusnya.

Sementara di Amerika, ‘true cost’ dari satu bungkus rokok dalam beberapa tahun terakhir seperti yang diterbitkan dalam Journal of Health Economics tahun 2006 mencapai US$ 222 (Rp 2,086 juta) per bungkus untuk laki-laki.

Tinggal kalikan saja berapa bungkus rokok yang dikonsumsi maka perokok harus menanggun biaya sebesar itu jika mengalami sakit akibat rokok.

Perhitungan ini diharapkan bisa membantu perokok memahami berapa sebenarnya biaya yang harus ia keluarkan untuk satu bungkus rokok. Cara ini dianggap mampu mencegah seseorang untuk merokok.

Meski Diharapkan hasil penelitian di Spanyol ini bisa diberitakan ke seluruh dunia sehingga perokok tahu berapa biaya yang harus ditanggungnya yang rata-rata 36 kali dari satu bungkus rokok saja.

“Ini kembali mengingatkan bahwa konsumsi tembakau dapat meningkatkan risiko kematian dini dibanding dengan non-perokok, sehingga seseorang dapat menetapkan berapa biaya kematian dini bagi orang yang merokok,” ujar peneliti Angel Lopez Nicolas dari Polytechnic University of Cartagena di Spanyol, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (29/10/2010).

Nicolas juga menuturkan bahwa merokok bisa memotong rata-rata usia harapan hidup seorang laki-laki sebesar 7,13 tahun dan perempuan sebesar 4,5 tahun.

Dalam penelitian ini Nicolas dan rekannya menggabungkan Value of a Statistical Life (VSL) dengan data epidemiologi terhadap harapan hidup bagi perokok dan bukan perokok, serta data mengenai konsumsi tembakau.

Meskipun jumlah biayanya bervariasi, peneliti mengungkapkan bahwa pemahaman yang lebih baik mengenai ‘true cost’ dari satu bungkus rokok dapat membantu mengurangi perilaku tidak sehat ini.

***

Vera Farah Bararah – detikHealth

http://www.detikhealth.com/read/2010/10/29/133611/1478693/763/berapa-biaya-kesehatan-1-bungkus-rokok?l993306763

Rabu, 04 Mei 2011

Berhenti Merokok Tanpa Bikin Bobot Melonjak


KOMPAS.com - Studi menunjukkan, secara rata-rata, wanita yang berhenti merokok akan mengalami kenaikan berat badan sekitar 4 kg. Umumnya, terjadi karena mereka berusaha menggantikan rokok dengan kunyahan. Alasan lainnya, juga karena rokok membantu mengalihkan keinginan untuk makan, sehingga ketika penahan keinginan makan itu hilang, makin ingin makan. Untuk menghindari kenaikan berat badan saat melaksanakan resolusi tahun baru untuk berhenti merokok, coba lakukan tips-tips berikut ini:

Segarkan Diri
Umumnya, godaan tertinggi untuk merokok datang usai bersantap. Untuk menahan diri supaya tidak ingin merokok, salah satu caranya adalah dengan menyikat diri usai makan. Strategi ini tak hanya membantu Anda menghilangkan sisa makanan yang bikin Anda ingin merokok, tetapi juga menyegarkan napas sekaligus menahan diri untuk tidak mengemil. Sayang, kan, gigi yang sudah bersih harus kotor karena makanan lagi?

Siap-siap
Anda tahu akan ada saat-saat mulut ingin iseng. Dulu, daripada mengemil, Anda akan memilih merokok. Mudah, cepat, dan praktis. Nah, daripada terjebak di lingkaran keisengan itu, Anda bisa selangkah lebih maju dari diri Anda dengan menyiapkan camilan untuk meladeni keisengan itu. Camilannya tentu yang sehat dan bermanfaat, seperti baby carrot yang sudah di-steam, atau sayuran dan buah yang sesuai cita rasa Anda. Pastikan bukan camilan instan yang mengandung banyak kalori, ya.

Cari Teman Seperjuangan
Carilah teman perempuan seperjuangan untuk diajak berolahraga 2-3 kali seminggu. Karena ada teman, Anda akan lebih termotivasi karena tak ingin membuatnya kecewa. Tak hanya berolahraga bisa membantu mengalihkan perhatian, tetapi sekaligus menurunkan stres, meningkatkan endorfin, sehingga mem-blok keinginan untuk menghisap nikotin sebelum dimulai.

Perhatikan Jamnya
Ingat-ingat kebiasaan Anda untuk merokok. Apa biasanya tejadi setelah makan malam atau sebelum makan siang? Biasanya, saat-saat itulah lidah Anda ingin "iseng". Catat saat-saat keinginan itu makin menggebu. Nah, ketika mendekati jam-jam itu, cari kegiatan lain, seperti chatting dengan teman, atau berkeliling gedung sambil jalan kaki, apa pun yang menahan Anda untuk menahan keinginan mengemil demi mengalihkan hasrat merokok.

Pengganti gerakan
Tanpa sadar, para perokok akan membentuk kebiasaan untuk menggerakkan mulut sewaktu-waktu. Ketika Anda berhenti merokok, kebiasaan untuk menggerakkan mulut itu masih tersisa (fiksasi oral). Jadi, cobalah cari kebiasaan lain, misal, mengisap batang kayu manis (meski pahit) atau siapkan lolipop bebas gula.



Sumber: health.com

Selasa, 03 Mei 2011

RS Keok lantaran Rokok

KOMPAS.com — Untuk sementara waktu, 37 rumah sakit di Missouri, Amerika Serikat, gigit jari. Pasalnya, gugatan lembaga kesehatan itu terhadap enam pabrik rokok besar di Negeri Uwak Sam mentok alias gagal di tangan hakim.

Ceritanya begini. Rumah-rumah sakit itu merawat pasien berpenyakit terkait bahaya merokok. Hebatnya, rumah-rumah sakit itu tak pandang bulu. Mereka menampung semua pasien, mulai yang berkocek gemuk sampai yang punya duit pas-pasan. Itu pun dengan risiko, jumlah pasien makin membengkak. Rumah sakit memang terikat oleh kode etik untuk tetap merawat pasien yang sedang membutuhkan terlepas dari kemampuan mereka untuk membayar.

Jadilah, pihak rumah-rumah sakit mengajukan gugatan. Menurut mereka, sebagaimana warta APdan AFP pada Sabtu (30/4/2011), perusahaan rokok telah menyebabkan munculnya produk sangat berbahaya di luar nalar. Mereka menganggap perusahaan rokok memanipulasi kandungan nikotin dalam sigaret dan menyembunyikan efek buruk dari merokok terhadap kesehatan.

Mereka pun menuntut ganti rugi lebih dari 455 juta juta dollar AS. Angka tersebut setara dengan Rp 4,6 triliun sebagai ongkos pengobatan para perokok tanpa jaminan asuransi yang tidak membayar biaya perawatan rumah sakit.

Namun, juri di pengadilan St Louis menolak klaim tersebut. "Juri sepakat dengan Philip Morris Amerika yang menyatakan rokok biasa tidak dirancang dengan abai atau tidak efektif," kata perwakilan Phillip Morris, Murray Garnick.

Sementara seorang pejabat dari Lorillard, perusahaan rokok lain yang juga dituntut, mengatakan, "Bukti-bukti memberatkan yang diajukan pada juri, termasuk dari saksi rumah sakit, menunjukkan bahwa rumah sakit tidaklah menderita kerugian separah yang mereka katakan."


sumber : http://internasional.kompas.com/read/2011/04/30/16212945/RS.Keok.lantaran.Rokok

1 dari 117 Bayi Tewas dalam Kandungan Akibat Asap Rokok


Jakarta, Stillbirth atau bayi lahir mati dipicu oleh banyak sebab, salah satunya paparan asap rokok pada ibu hamil. Meski tidak merokok, ibu hamil yang menjadi perokok pastif jauh lebih berisiko mengalami keguguran di trimester akhir kehamilan.

Bahaya rokok terhadap kehamilan sudah banyak diteliti, namun hanya sedikit yang mengungkap hubungannya dengan risiko stillbirth atau bayi lahir mati pada trimester akhir. Kalaupun lahir dalam kondisi hidup, risiko lainnya adalah cacat otak.

Hal ini terungkap dalam penelitian Dr Joan Crane dari St John and Colleagues, yang dipublikasikan baru-baru ini dalam An International Journal of Obstetrics and Gynecology. Penelitian ini melibatkan 12.000 ibu hamil di Kanada, 11 persen di antaranya adalah perokok pasif.

Asap rokok yang dihisap oleh para perokok pasif sebenarnya terlalu banyak, hanya sekitar 1 persen dari yang dihisap oleh perokok aktif. Namun penelitian ini mengungkap, dampaknya sangat besar bila dibandingkan dengan ibu hamil yang sama sekali bebas dari asap rokok.

Risiko bayi lahir mati pada perokok pasif teramati sebesar 0,83 persen, sementara pada ibu hamil yang tidak terpapar rokok hanya 0,37 persen. Jika disesuaikan dengan faktor lainnya, maka diperkirakan rokok menyebabkan kasus 1 kematian pada 117 kelahiran bayi.

"Angka ini sangat besar. Kita sudah bisa menyimpulkan bahwa dengan menjadi perkokok pasif, seseorang bisa mengalami keguguran," ungkap Dr Hamisu Salihu, ahli kandungan dari University of South Florida saat mengomentari hasil penelitian Dr Crane, seperti dikutip dari Reuters, Senin (2/4/2011).

Selain memicu keguguran pada masa-masa menjelang kelahiran, asap rokok juga bisa menghambat perkembangan sel otak. Bayi yang dilahirkan perokok pasif memiliki lingkar kepala rata-rata 0,24 persen dibanding rata-rata bayi yang dilahirkan ibu-ibu bebas asap rokok.

"Meski tidak terkait secara langsung, ukuran lingkar kepala bayi berhubungan dengan Intelligence Quotient (IQ) atau kecerdasan," ungkap Dr Salihu.

(up/ir)